Hari Sabtu di penghujung Februari. Kulangkahkan kakiku bersama Miss.Ning, one of my best friends, ke sebuah tempat yang sama sekali tidak pernah kudengar sebelumnya. Di pinggir kota Jakarta, daerah Pondok Rangoon, lokasi yang jauh dari komplek gedung mewah bertingkat seperti di jl. Thamrin atau jl. Sudirman. Menurut Miss. Ning yang mengajakku, di tempat itulah kita akan belajar bagaimana cara menulis yang benar karena ada beberapa guru yang akan memberikan ilmunya pada kita. Aku senang menulis. Aku sering bermimpi menjadi penulis & menerbitkan buku. Subhanallah...kini jalan untuk mencapai itu sudah mulai terbuka. Bahkan, membuatku semakin bersyukur, para peserta yang semua adlah guru, tidak dipungut biaya, free! Bapak Rhenald Kasali sebagai pencetus ide sekaligus pemilik Rumah Perubahan memberikan program beasiswa kepada guru-guru yang berniat menjadi penulis. Alhamdulillah... Terima kasih Allah, Kau gerakkan hati beliau untuk bersedia membantu kami. Biaya pelatihan tidak ada yang murah, terutama buatku. Meskipun cuma bernilai ratusan ribu, bukan jutaan, tetap berat dengan kondisi gaji yang tidak mencapai 1,5 per bulan.Tempat kerjaku masih belum bisa membuatku "gemuk" karena aku masih dipandang sebelah mata.
Nama "Rumah Perubahan" bagiku bermakna sederhana tapi sangat bernilai luhur. Sebuah bangunan yang luas, sangat asri karena didominasi kayu, mulai dari lantai sampai langit-langit. Tembok pun diiringi ornamen kayu. Berbagai aneka pepohonan serta kolam ikan yang sebagian terdengar gemericik airnya. Hemm...serasa di surga, nyaman sekali. Bukan tidak ada peralatan mewah, ada AC & kloset duduk yang mencerminkan modernisasi, namun karena suasana alam yang lebih mendominasi, maka itulah yang terasa di dalam jiwa selama di sana. Makan siang pun aku pernah di saung sambil menatap pepohonan & kolam ikan di bawahnya. I wish it were my house... Tiap suapan kurasakan ni'mat sekali, sampai aku bisa menghabiskan seporsi semuanya sendiri. Menunya enak, ditambah suasana tempat yang nyaman membuatku makan dengan lahap. Sayangnya, musholla kurang terawat. Di atas karpetnya banyak semut hingga aku merasa kurang bisa tenang saat shalat. Mukena cukup banyak tapi sepertinya jarang dicuci karena tidak tercium wangi. Sajadah cuma satu yang terbentang, itu juga terlihat ada debu. Mungkin karena sang empunya tidak pernah shalat di situ ya?
Sebuah rumah yang menurut sejarahnya, berawal dari lokasi pembuangan sampah, namun berkat kejeniusan Pak Rhenald Kasali, menjadi tempat yang indah & bisa melahirkan "orang" Lingkungan tetangga pun tidak diachkan, semua dimanfaatkan dengan baik oleh beliau. Terima kasih Allah, Kau telah menciptakan seorang baik & pintar seperti Pak Rhenald. Ingin sekali aku menjadi seperti beliau, memiliki ilmu yang luas & bisa bermanfaat bagi sebanyak-banyaknya orang. Ya Allah, berikanlah ganjaranMu yang besar untuknya atas kebaikannya kepada kami, termasuk aku.
Aku ingat, di hari terakhir pelatihan, aku menyapa beliau, bicara langsung sambil menatap wajahnya dari dekat. Sebuah wajah yang ramah & memberikan aura positif padaku. Beliau memberiku semangat untuk bisa menjadi penulis. Beliau meyakinkanku, aku bisa padahal aku yakin, beliau tidak tau siapa aku sama sekali. Aku betul2 mengacungkan jempol untuk seorang Rhenald Kasali.
Sayang aku kurang punya waktu untuk berkeliling di sekitar Rumah Perubahan. Waktu istirahat sebentar, cuma cukup untuk makan & shalat. Bahkan niat dari rumah mengaji pun, tidak bisa terlaksana. Disiplin waktu jadi jika ada yang terlambat masuk saat acara dimulai, akan dikenai denda. Begitu juga jika hp dibunyikan, apalagi diangkat untuk ngobrol & sms, didenda!
Sepanjang jalan dari berangkat sampai ke tempat tujuan, kemudian kembali lagi ke rumah, asma Allah terus kudengungkan. Subhanallah... Alhamdulillah...diberi kesempatan aku menikmati ilmu untuk mewujudkan cita-citaku. Tidak akan terjadi jika tanpa ijin Allah. Bahkan sempat kena hujan deras di pagi hari kedua, tekadku tetap membara & kuyakini itu sebagian bagian dari ujian dalam perjuangan. There is Allah besides me so I'm not afraid to face the troubles. Apa yang aku lakukan adalah bagian dari ibadah. Motivasi utama menjadi penulis pun ingin memberikan sumbangsih setetes hal berharga pada pembaca, terutama bagi generasi muda & anak2. Banyak pengalaman hidupku. Juga beberapa pengalaman hidup dari beberapa yang kukenal. Semuanya pasti ada hikmah. Semoga Allah memberiku kemudahan & jalan keluar dari tiap kesulitan, aamiin...
Terima kasih Allah, terima kasih Pak Rhenald, terima kasih Rumah Perubahan.... Sebuah rumah yang dapat membuat siapa pun yang memasukinya, termasuk aku, laksana sebuah kepompong berubah menjadi seekor kupu-kupu yang cantik. Aku yang saat ini bukan siapa-siapa suatu hari nanti akan menjadi "seseorang" berkat Rumah Perubahan.
Suatu hari nanti jika Allah mengijinkan aku sukses atas usahaku menjadi penulis, aku juga akan berbuat sama seperti Pak Rhenald, membuat tempat untuk mengasah sumber daya manusia yang berasal dari golongan kekurangan agar menjadi orang yang manfaat, Insya Allah...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar