Pengajian Al Azhar pusat bulan lalu membahas tema tentang "Keteladanan Rasulullah SAW". Diawali dengan pembacaan ayat surah Al Qur'an Al Ahzab ayat 21 sebagai ayat yang diturunkan pada masa sulit Rasulullah, karena ada persekongkolan golongan Yahudi dan Quraisy untuk memusnahkan Rasulullah dan para sahabat yang waktu itu semakain populer sehingga golongan tersebut merasa terancam dan melakukan penyerangan yang dikenal sebagai Huswatul Ahzab.
Saat itu, Rasululllah menunjukkan sikap terbaik dengan tetap tenang dan selalu yakin atas pertolongan Allah. Beliau selalu minta pertimbangan (musyawarah) dengan para sahabat sebelum memutuskan sesuatu. Contoh, saat menghadapi musuh pada perang Hondakh, Rasulullah berkumpul dengan para sahabat untuk mencari ide terbaik dan ide terbaik ternyata diperoleh dari Salman, seseorang yang berasal dari Iran yang saat itu ikut duduk berkumpul bersama Rasulullah dan para sahabat. Beliau mengungkapkan bahwa Rasulullah sebaiknya membuat parit. Rasul memilih orang yang bukan dari golongan Arab, tidak pilih golongan. "Ambillah ilmu itu meskipun dari Cina" (hadist Rasul)
Rasulullah selalu bertanggung jawab untuk mau menjalani setiap putusan bersama dengan para rakyatnya, tidak sekedar memerintah tapi ikut turun tangan dengan siap menerima segala konsekwensi. Beliau menunjukkan pula pribadi mulianya sebagai pemimpin yang amanah dan kuat.
"Kuat" dibutuhkan oleh seorang pemimpin karena pemimpin harus mampu menghancurkan segala bentuk kemiskinan dan kebodohan rakyat / anak buah yang dipimpinnya.
Rasulullah memiliki fungsi yakni sebagai Syahidah (saksi ), Mubasyiron ( pemberi kabar gembira) dan Nadiron ( pemberi peringatan ).
Saksi atas ketauhidan Allah swt, yang diimplementasikan dengan pengucapan syahadat, diwujudkan dalam amaliyah, termasuk bertasbih. Pembawa kabar gembira yang artinya menyampaikan pada umat Islam bahwa tiap amal sholeh balasannya adalah syurga dan kebaikan yang berkali lipat. Sedangkan pemberi peringatan tentunya bahwa tiap kejahatan atau keburukan balasannya adalah neraka.
Sebagai muslim, kita wajib menjadi "baik" karena Rasulullah sudah menjadi dan memberi teladan pada kita. Sebagai muslim, kita sebagai saksi kebenaran atas firman Allah atau dengan kata lain "syuhada atas perilaku kita" dilandasi iman yang kokoh, melakukan yang diperintahkan dan mengajak kebajikan dan mencegah kemunkaran dan menghindari yang dilarang.
Umat Islam sebagai "umat tengah" artinya umat yang memadukan antara urusan dunia akherat, lahir batin, tampak dan tidak tampak, sehingga agama Islam sebagai agama yang "adil" karena seimbang dan rasional.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar