IITahun 2007 adalah awal aku mengenal suatu lembaga pendidikan bernama al Muslim. Yayasan yang sangat besar, mulai dari TK sampai SMK bahkan ada akademi meskipun siswanya tidak sebanyak SD, SMP, SMA, dan SMK. Terletak di daerah Tambun, tepatnya jalan Kampung Bahagia (bahagia?) atau Kampung Utan jika aku memakai kendaraan umum. Tidak persis di pinggir jalan raya besar, agak masuk ke dalam, tapi ternyata jika kita sudah ada di depan gerbangnya, terlihat sekali kemegahannya. Beberapa satpam menjaga gerbang dan parkir. Wah, betul-betul eksklusif...
Mungkin jika aku tidak mengambil Akta 4 di Unisma, aku tidak akan pernah mengenal al Muslim. Kepsek SD yang bernama Bu Nana ternyata baru mengambil Akta 4, sama seperti aku. Beliau tidak mengenalku, aku juga tidak mengenal beliau, bahkan kami tidak pernah ngobrol saat kuliah. Namun, ada seorang yang bernama Yessi yang menjembatani kami untuk bertemu. Sampai akhirnya, saat lulus kuliah, aku langsung ditelpon Yessi dan ditawari untuk bekerja sebagai guru di SD al Muslim. Padahal dalam benakku waktu itu, aku akan pulang ke Sukabumi saja dan mencoba melamar kerja di sana sambil menemani mama. Rencana manusia ternyata tidak selalu samadengan rencana Allah. Kuputuskan untuk langsung menerima tawaran, karena kusadari bahwa mencari kerja jaman sekarang tidaklah mudah. Meskipun aku harus di-test lebih dahulu, tapi Alhamdulillah... aku diterima. Takdir....
Awal aku bekerja, aku ditempatkan sebagai guru kelas 6 yang mengajar pelajaran PKPS, tidak terlalu menyimpang dari my education background. Panas dingin waktu pertama aku harus masuk kelas. Tapi terus kuyakinkan dalam hati, "aku pasti bisa" There is always the first time for everything... itulah yang aku alami dan rasakan. Alhamdulillah, seiring berjalannya waktu, aku bisa melampaui beberapa hambatan. Hal yang paling tidak bisa kuhilangkan adalah suaraku yang dianggap banyak orang terlalu kecil, kurang keras. Ruangan kelas yang dibuat terbuka bagian atas pintu, ventilasi yang luas dan sikap anak-anak yang sering ribut, baik di kelas yang sedang kumasuki maupun dari kelas sebelahnya. Tapi yaa... mau gimana lagi ya? Yang penting, aku bisa mentransfer ilmu pada anak-anak didikku dengan baik dan hasil ulangan mereka pun tidak mengecewakan. Kalau pun ada yang dibawah standar, itu adalah anak-anak yang memang memiliki kemampuan rendah untuk menyerap ilmu, bukan cuma dari pelajaranku saja, tapi dari semua pelajaran. Sayang, mereka berasal dari keluarga the have, makanannya pasti bergizi, tapi tidak pintar....
Aku menyayangi anak-anakku. Merekalah motivasiku untuk datang ke al Muslim tiap hari, karena jika aku menyadari gajiku yang sangat minim, aku sering menangis. Otakku dibayar rendah di sekolah yang spp siswanya sekitar 500rb/bulan. Tidak jarang belum sampai akhir bulan, aku sudah mengerutkan kening, gimana cara aku bisa mencukupi kebutuhanku sampai akhir bulan. Aku tidak diberi transpor samasekali karena aku masih sebagai Guru Paruh Waktu. Gajiku berdasarkan perhitungan tatap muka ditambah gaji pokok yang menurutku masih dibawah gaji seorang baby sitter. Mereka yang bernasib samadenganku adalah guru-guru Qira'ati, mengajar mengaji, tapi mereka bukan sarjana, bahkan ada yang cuma sampai SMA. Juga ada 2 orang guru lain yang bernasib sama, Bu Eros yang mengajar Bahasa Indonesia dan Miss Nining yang mengajar Bahasa Inggris. Keduanya ditempatkan di level 3 dan 4. Sama denganku, mereka pun merasa tidak adil. Keduanya bertekad tidak akan pernah lama bekerja di al Muslim.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar